Ketika Kisah Tragis & Mengerikan Menjadi Objek Wisata

Orang berlibur tidak hanya untuk senang-senang. Ada tempat di dunia, dimana turis datang untuk mengingat tragedi kemanusiaan. Dark tourism atau liburan kelam tidaklah wisata horor, tetapi pembelajaran dan hikmah. Dark tourism atau liburan kelam merupakan istilah yang terjadi semenjak tahun 1990-an, demi menyebut bagian yang khusus dari pariwisata sejarah. Karena ternyata, ada obyek wisata sejarah yang membawa kenangan duka, kesedihan dan bencana. Liburan kelam adalah aktivitas mengunjungi tempat wisata perang, bencana alam dan juga konflik antar makhluk hidup. Di lokasi seperti ini, bukan suasana hura-hura yang timbul. Lantas mengapa turis mau datang ke tempat tragis seperti ini?

Jawaban yang tepat adalah untuk mencari pembelajaran, hikmah, kisah untuk para korban dan momen untuk berdoa. Tempat wisata kelam merupakan sekaligus teguran untuk manusia yang masih hidup, janganlah sampai perang, tragedi dan konflik sampai terjadi lagi. Travel Highlight Liburan Kelam akan membahas berbagai tempat wisata sejarah yang menjadikan kisah bencana di Indonesia dan luar negeri. Rupanya memang banyak pilihan destinasinya.

Kolonial Belanda dan Jepang mewariskan sejumlah tempat wisata kelam. Taman Fatahillah di Jakarta, dulunya adalah tempat eksekusi. Lubang Mbah Soero di Sawahlunto juga banyak orang wafat di sana. Begitu pula dengan sejumlah gua Jepang di Indonesia yang didirikan lewat kerja rodi pribumi.

Di luar kolonial, bencana alam dan teror pun mewariskan wisata kelam. Tragedi tsunami di Aceh, bisa dikenang turis di Museum Tsunami, Masjid Baiturrahman dan Masjid Rahmatullah. Yang dikatakan terakhir adalah masjid ajaib yang tidak hancur dihantam tsunami. Erupsi Merapi juga memiliki sejumlah bekas kampung dan rumah Mbah Maridjan yang bisa didatangi wisatawan. Bali yang full hura-hura dan bikini, juga mempunyai objek pariwisata kelam berbentuk Monumen Bom Bali.

Di negara tetangga pun terdapat banyak tempat wisata kelam. Tentunya, pernah ada rezim otoriter di sebagian negara tetangga yang banyak sekali makan korban jiwa. Kamboja misalnya, mempunyai Tuol Sleng Museum di Phnom Penh adalah bekas penjara sadis.

Di sejumlah belahan dunia pun terdapat banyak destinasi wisata kelam dan sebagian besar bertema perang. Namun bisa dibilang, Perang Dunia II cukup banyak mewariskan destinasi wisata kelam. Yang sangat terkenal ialah monumen peringatan bom atom di Hiroshima, Jepang. Bom yang paling besar dalam sejarah manusia, mewariskan kisah paling menyedihkan didalam sejarah manusia.

Amerika mempunyai 9/11 Memorial Museum untuk mengingat tragedi WTC. Terdapat bekas kamp Nazi Jerman di Auschwitz, Polandia yang mempunyai kisah pembantaian etnis Yahudi kala PD II. Di Rwanda bahkan terdapat Kigali Genocide Memorial Centre, guna mengenang pembantaian etnis yang memakan korban hingga 1 juta orang.

Berlibur ke destinasi wisata kelam, pastinya berbeda dengan destinasi wisata sejarah yang lainnya. Kelakuan hura-hura dan tak peduli, amat tidak pantas di sini. Sebagian besar turis mengambil sikap simpati dan berdoa kepada semua korban.

Pariwisata kelam, seringkali menyeramkan. Akan tetapi pariwisata kelam bukan suatu wisata horor yang mirip dengan hantu-hantu. Pariwisata kelam bahkan memberikan pembelajaran yang cukup dalam dan menjadikan turis dapat menarik hikmah dan sikap bijak.

Turis datang ke destinasi wisata kelam tak cuma untuk mengingat dan mendoakan mereka yang telah meninggal. Destinasi wisata kelam itu sendiri jadi tanda jangan sampai perang, konflik dan tragedi itu terulang. Cukuplah mereka sebagai bukti yang terakhir. Mereka yang masih tetap hidup diminta memetik pelajaran dan langkah pertahanan yang bijak didalam kehidupan mereka. Seperti yang telah diucapkan Presiden Soekarno, “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.